Apa yang bisa Saya Banggakan?

Ketika semua orang berbangga dengan apa yang telah mereka raih sekarang, saya justru menundukan kepala dan “apa yang bisa saya banggakan?”.

Well, saya merasa bodoh. Apalagi melihat umur saya sekarang. Ketika dulu SMP saya bisa bercita-cita setinggi-tingginya, SMA cita-cita itu berubah dengan alasan rasional tidaknya.

Sekarang?

Sebetulnya, saya masih menaruh harapan untuk mendapatkan pendidikan terbaik. Pendidikan yang benar-benar membuat manusia menjadi cerdas, bukan menjadi seorang mesin penghafal.

Mengharapkan, bahwa pendidik tulus memberikan ilmunya, bukan pendidik yang menjalankan kewajiban karena telah diberi upah atau mendidik karena mencari upah.

Memang benar, manusia tidak bisa hidup tanpa adanya pemasukan. Tetapi, saya bisa merasakan sendiri bagaimana diajar oleh pendidik yang benar-benar ingin mencerdaskan dan yang sekedar menjalankan kewajiban.

Pendidikan Dasar

Ketika saya masih di TK dan SD, jujur saya tidak bisa menggambarkan kenapa saya sekolah dan tujuan saya sekolah. Yang kita tahu adalah sebatas sekolah agar kita pintar dan nantinya bisa menjadi manusia yang berguna.

Ada yang salah?

Tidak, jawaban itu terlalu luas. Kita tidak tahu pintar itu seperti apa dan manusia yang berguna itu seperti apa. Yang kita tahu dari pintar adalah mereka yang mendapatkan nilai tertinggi dan manusa berguna adalah mereka yang bisa membantu orang lain dan gambaran kita saat itu tidak jauh dari tokoh fiksi dan dokter.

Saya rasa, seorang anak harus tahu apa tujuan dari sekolah, sangat bagus jika mengerti itu dari sejak SD atau TK.

Jika saya punya anak kelak, saya akan mencoba menjelaskan kepada anak saya tujuan sekolah, semengerti-mengertinya.

“Dek, kenapa kita sekolah?”

Lalu, saya akan menonton berbagai macam film dokumenter bersama anak saya, dan tentunya mengajak dia berkomunikasi agar tidak bosan. Tujuannya, agar anak saya nanti mempunyai sosok yang dia “ingin seperti”, akan sangat berharga jika nanti seorang anak dengan sendirinya menyebutkan “saya ingin seperti Enstein”.

Satu lagi, sebisa mungkin saya tidak akan menanamkan kepada anak saya tentang hal-hal seperti mitos.

Sebisa mungkin apa yang dia tanyakan akan saya jawab secara ilmiah. Bukan jawaban dongeng, ghaib, atau cerita-ceita fiksi lain.

Apapun itu, tetapi sudah terlalu banyak orang bodoh di Negeri ini. Bahkan mereka lebih mempercayai “katanya” dan hal ghaib daripada penjelasan ilmiah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.