Apakah Gue Depresi?

Sebenarnya apa si depresi itu?

cambridge.org:

  • the state of feeling very unhappy and without hope for the future
  • a mental illness in which a person is very unhappy and anxious (= worried and nervous) for long periods and cannot have a normal life during these periods

KBBI:

  • keadaan perniagaan yang sukar dan lesu
  • gangguan jiwa pada seseorang yang ditandai dengan perasaan yang merosot (seperti muram, sedih, perasaan tertekan)

Dari kedua sumber di atas, benar memang kalau akhir-akhir ini gue ngerasa unhappy, gak mau ngapa-ngapain, dan banyak cemas. Gue masih belum tau akar kecemasan gue dari mana, tetapi gue nebak kalau kecemasan gue akarnya karena rasa empati gue terhadap ibu gue sendiri.

Awalnya gue nebak kalau rasa cemas dan gak mau ngapa-ngaain ini efek dari banyaknya kegagalah gue di masa lalu, seperti gagal masuk perguruan tinggi favorit, gagal jadi programmer yang gue idam-idamkan, relationship gue yang berantakan, dll.

Hari ini tanggal 24 Desember 2018, hari dimana orang-orang libur natal dan tahun baru. Termasuk gue, dari hari jumat gue udah ada di rumah dan menghabiskan waktu dengan keluarga, khususnya Ibu.

Ada perasaan senang ketika gue ngelihat senyuman di Ibu gue, seketika gue ngerasa happy dan bisa berbuat banyak buat masa depan gue sendiri.

Oh ya, nngomong-ngomong. Ibu gue sakit HNP dari 2014, yaitu penyakit yang diakibatkan terjepitnya syaraf tulang belakang. Efeknya adalah sulit berdiri, lemas, dan susah mobilisasi.

Buat Ibu gue, awalnya beliau susah berdiri, namun sekitar 2 tahun perawatan beliau sudah bisa berdiri dan jalan seperti orang normal. Di titik ini gue kira Ibu gue sembuh, kenyatannya tidak. Setelah bisa berdiri, penyakit lanjutannya adalah lemas pada kedua kaki. (awalnya satu kaki)…

Gue melihat sendiri, Ibu sudah putus asa, dan sering sekali memberikan nasihat-nasihat seolah-olah beliau tidak akan hidup lama lagi. Selalu, gue memberikan semangat bahwa ini pasti berlalu.

Sebelumnya, ada perasaan optimis. Bagaimana pun Ibu pernah melewati fase sulit, susah berdiri dan akhirnya bisa berjalan dan sehat seperti kebanyakan orang. Tetapi, perasaan optimis yang gue punya sedikit-sedikit terkikis, dan gue bagaimanapun harus siap.

… Kenyataannya gue tidak pernah siap.

Saat itu, gue masih kuliah. Tingkat akhir. Ibu sering sekali memberikan nasihat “cepet lulus nak, sayang sama umur”.. Mungkin maksud Ibu adalah jangan sia2in waktu lo buat ngulang. Tentu, perkataan-perkataan kecil seperti itu sedikit banyak jadi motivasi buat gue cepet-cepet lulus.

Kondisi gue saat itu adalah gue sedang mengajukan proposan skripsi ke 2. Dan setiap kali gue ngelihat calon dosen pembimbing, gue selalu ingat perkataan Ibu.

Singkat cerita gue lulus sidang, dan siap wisuda. Kondisi Ibu gue saat itu masih sama, kakinya seringkali lemas dan bahkan mati rasa. Buat gue saat itu, motivasi gue lulus adalah pengen ngeliat Ibu di wisuda gue.

Buat Ibu, Belau pernah bilang.. Dia bisa tiba-tiba sehat dan bisa berlari asalkan ngeliat gue wisuda…

Dan ternyata, hari itu pun tiba. Ibu ngeliat sendiri gue wisuda.

Setelah, MRI, pengobatan, dan terapi,.. Kaki Ibu berangsur sudah tidak lemas lagi, beliau berlatih berjalan lagi, dan perlahan gue dan Ibu melihat harapan lagi..

Saat itu adalah tahun 2016 menjelang 2017, sejauh itu Ibu memperlihatkan recovery yang cepat.

Sepanjang 2017, gue bisa melihat bahwa tahun 2017 adalah tahun terbaik dan terindah buat gue dan Ibu. Ibu sudah bisa berjalan dengan normal lagi, rasa lemasnya di kaki beliau mulai perlahan hilang.

Tetapi, sejak bulan Juli (kalau tidak salah) belau mendapatkan keluhan lain. Ibu sering pusing, tatapi bukan pusing yang bisa ilang setelah tidur begitu saja.

Dugaan awal kami adalah pusing karena colestrol, karena memang Ibu memiliki colestrol juga. Tetapi sedikit-demi sedikit colestrol hilang, pusing itu masih ada dan semakin sering muncul.

Sampai suatu ketika, pada bulan Desember 2017, pusing ini sering muncul dan sudah menggangu aktivitas sehari-hari.

Oh ya, pada tahun 2017 juga. Gue sudah mualai berkerja di perusahaan swasta, Jakarta. Gue mulai pindah ke Jakarta sejak bulan September 2017.

Kenapa gue menyinggung pekerjaan dan kepindahan gue ke Jakarta.

Ceritanya, Ibu sangat berharap sekali kalau gue tidak jauh-jauh dari belau. Tetapi, gue diam-diam menerima tawaran kerja di Jakarta. Awalnya belau shock mendengar cerita gue, tetapi lama-kelamaan terbiasa.

Gue mengira bahwa ini adalah bukan sebuah big deal, tetapi gue salah. Karena kepindahan gue ke Jakarta, gue menebak sedikit banyak memberikan pikiran dan rasa stress terhadap Ibu.

Sepanjang tahun 2018 ini, mulai dari bulan Desember itu, vertigo yang dialami Ibu gue sepertinya susah untuk hilang. Melihat dan mengingat itu, gue salalu merasa bersalah.. Apalagi bisa dibilang gue hanya beberapa kali saja bertatap muka dengan Ibu setiap bulannya di sepanjang 2018.

Seringkali gue menyalahkan diri sendiri dengan kondisi ini..

Seringkali gue mengingat memori-memoru “bagaimana jika senadainya”…

Ya, saat menulis tulisan ini pun gue sebenarnya sedang sangat malas melakukan apapun ( bohong, harusnya gue tidak menulis sekalian ).. tidak ada aktivitas yang membuat gue hidup…

Saat ini, gue hanya berharap, semoga Ibu bisa beraktivitas normal kembali..

0 comments… add one

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.